Rabu, 01 Februari 2012

Surat Cinta Kala Subuh

Dear,  Mr. N 
There.

Belakangan ini aku hampir-hampir sangat rindu dengan bayangmu,
belakangan sejak november lalu. 
Entah aku alfa atau apa, belakangan aku jarang mengirimkan doa setelah shalat subuh.
Aku menjadi sok sibuk belakangan ini, tugas-tugas menumpuk dengan indahnya.
Seperti biasa aku parabola :D

Hey, libur akhir semester ini aku belajar membuat banana cake yang sempurna, yang seperti katamu, banana cake adalah cake paling sempurna di lidahmu. Sejauh ini sering sekali gosong.
Tapi, tunggu saja saat aku berhasil nanti,  jangan coba-coba mencoba lebih dari sepotong ya!
Tidak, aku bercanda!
Sejuta loyang-pun boleh kau miliki.
Itu akan terjadi –tentu- , jika seandainya kamu dan ragamu masih disini.
yeah..


The cake you love the most, yes I remember!  
-mocca, I Remember-


Aku mengingat semuanya.
Seperti semua detil hal  yang menjadi alasan aku menulis surat ini. Detil hal pertama kali aku jatuh cinta padamu.
Semua kuingat dengan jelas, tentu saja. 
Detik ketika pertama aku mempercayai bahwa love at first sight itu, benar-benar ada.
Aku benar-benar yakin, kau bahkan tidak pernah tahu kapan tepatnya kau berhasil mencuri hatiku.

September 2003.  
Jelas aku ingat!
Aku yang saat itu benar-benar masih hijau, bahkan baru saja genap 12 tahun, dengan rambut panjang sebahu tanpa poni dan gigi yang berantakan, memberanikan diri mendekatimu.

Dengan satu senyuman saja, aku bahkan hampir-hampir menganggapmu mahkluk terindah yang pernah ada.
Lagi, aku parabola - seperti katamu dulu-
Bahkan, aku yang sama sebelumnya sangat acuh dengan penampilan, sejak itu aku punya sahabat baru, Biore.
Biore merah anti acne! Kupakai setiap hari, berharap wajahku akan sedikit lebih cerah, dan kamu akan menganggapku sebagai wanita yang cantik.
 Aku ingat! 
Hampir setiap sore sejak itu.
Sepulang bermain bola bersama abangku dan yang lain, kamu mampir untuk menegak beberapa air.
Berkeringat, terlihat segar.
Kamu bau, tapi aku cinta..

 Waktu berlalu dan aku selalu berharap aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Aku yakin kamu pasti menyadarinya, bukan?
 Walaupun aku tahu, ada wanita yang kau sebut sebagai kekasih. Posisinya jelas nyata, tidak semu. Akulah sang semu.
Saat itu, aku berusaha pura-pura lupa, agar aku tidak menggali  lubang hatiku sendiri.
Bagiku, melihatmu tersenyum saja sudah cukup. 

Hari-hari itu terasa sempurna. 

Aku bahkan ingat tawamu saat tahu bahwa aku tidak menyukai bunga. 
Katamu aku kuno.
Hingga suatu hari, katamu aku seperti bunga matahari.
"Kamu kayak bunga matahari aja, banyak yang lebih cantik, tapi bunga matahari cenderung spesial, kuat. Sekuat kamu."
Meskipun pada akhirnya yang menurutmu paling kuat adalah daya makan-ku :|
Semenjak itu, aku merasa bisa lebih kuat dari sebelumnya. 


Taukah kamu, harusnya aku menulis surat ini saat itu, sebelum pada akhirnya semuanya tiba-tiba menjadi pias.

Akhir 2004.
Kata abang, kamu sakit. Selama tiga minggu, aku tidak mampu meraba sosokmu. 
Diagnosa yang kudengar, DBD. 
Aku rindu. 
Rindu bau keringatmu di kala senja

Tapi kamu bahkan datang lagi, dengan senyum yang kulihat masih secerah yang lalu.
Hingga pertengahan tahun 2005, kamu jatuh sakit lagi. 
Aku kehilangan sosokmu, yang kukira lagi-lagi hanya sementara.


Friday, 18th November 2005
Kulihat abang pulang lebih awal dengan mata yang sembab. 
Aku merasa tidak karuan, tapi tidak terlintas apapun tentang kamu, meskipun sejak pagi, aku resah entah karena apa.
Jangan katakan itu firasat.



Hari itu juga, aku benar-benar menggali lubang hatiku sendiri.
Malam itu aku berbusana serba hitam.
Tidak akan pernah kuceritakan detil hari itu. 
Aku linglung.


Rasanya sejak itu aku menjadi abu-abu. 
Panggil aku grey. Aku suka itu.
Aku berusaha mengirim sejuta surat cinta sejak itu, tapi hanya kata kosong yang tertulis.
Hingga suatu hari, ibuku berkata. 
Wujud mencintai terbaik adalah sebuah doa.


Hingga saat ini aku mengirim entah sudah berapa juta surat cinta dalam doa subuhku.
Berharap surat cinta itu sampai kesana.

Dear, kamu yang sehangat matahari.
Matahari sungguhan, bukan bunga matahari,
Mungkin aku sering alfa mengirimkan surat cinta itu, tapi aku yakin tidak akan pernah berhenti hingga bibirku suatu saat nanti tidak mampu lagi berucap.


Ruang kosong di hatiku mungkin sudah pernah terisi oleh beberapa orang yg baik, tapi tentu ruang itu tidak akan terganti.

Aku sudah berubah menjadi wanita pra-dewasa, sebut saja begitu.
Rambutku sudah tertutup hijab, gigiku sudah rapi, aku kini gila warna coklat, bukan lagi pink magenta yang katamu hampir bisa merusak mata.
Namun, aku tetap sama seperti dulu. Wanita kuno yang masih mencintaimu.

Suatu saat nanti cintaku terhadapmu akan 'turun pangkat'.
Suatu hari nanti saat aku menemukan seorang lelaki yang baik iman nya, yang mempercayai aku menjadi ibu dari anak-anaknya, tempat aku mengabdi di sepanjang usiaku nanti- lah posisimu di hatiku akan tergeser olehnya.
Tak apa bukan? 
Karena bagiku, surat cinta subuhku akan menjadi surat terpenting yang tak akan pernah berhenti hingga nafasku terhenti.

Jadi kuharap, kamu masih sekuat dulu,sehangat dulu, disana...




Hari ke-17
#30harimenulissuratcinta                                                                                           


                                                                                                                                 Aku,
                                                                                           

                                                                                              Wanita yang kau anggap kuno.